BerandaBeritaMengenal TMC, Teknologi Modifikasi Cuaca yang Bisa Atasi Cuaca Ekstrem

Mengenal TMC, Teknologi Modifikasi Cuaca yang Bisa Atasi Cuaca Ekstrem

Saluran WhatsApp

Serang, Bantentv.com – Sejak akhir tahun lalu, tepatnya pekan terakhir di Desember 2022 Indonesia tengah mengalami cuaca ekstrem. Cuaca ekstrem ini diprediksi akan terus terjadi hingga awal tahun 2023. Cuaca ekstrem yang terjadi beragam, mulai dari hujan dengan intensitas tinggi, angin kencang, hingga badai. Berbagai dampak buruk juga bisa terjadi seperti bencana banjir, longsor, pohon tumbang, dan lain-lain.

Sebagai upaya meminimalisir dampak kerugian yang disebabkan cuaca ekstrem tersebut, seringkali diterapkan TMC atau Teknologi Modifikasi Cuaca. Dilansir dari berbagai sumber, TMC merupakan rekayasa kondisi atmosfer untuk mengubah cuaca pada skala lokal ataupun regional. Modifikasi cuaca dilakukan dengan cara menebar garam NaCL di awan. Garam disemai dalam jumlah besar ke atas awan dengan menggunakan pesawat, atau metode ground based generator, atau bisa juga menggunakan metode wahana pohon Flare untuk sistem statis. Adanya TMC bukan berarti menghalangi hujan turun, melainkan hanya membuat hujan turun di tempat lain yang diinginkan.

Dalam kasus TMC yang bertujuan untuk mengurangi intensitas hujan di suatu daerah karena dikhawatirkan banjir atau sebagainya, hujan biasanya direkayasa untuk turun lebih awal sebelum memasuki wilayah seharusnya. Untuk mengurangi intensitas curah hujan, hujan biasanya dikondisikan agar turun ketika awan masih di atas laut. Selain itu, TMC juga bisa memodifikasi cuaca agar awan yang akan menurunkan hujan bisa diarahkan ke lokasi yang butuh air hujan seperti untuk mengisi waduk, membasahi lahan gambut, memadamkan kebakaran hutan dan lahan, dan lain-lain.

Metode TMC pertama kali muncul pada tahun 1946. Sedangkan di Indonesia sendiri, TMC dipraktikan pertama kali pada tahun 1977. Meskipun sudah diterapkan di beberapa daerah di Indonesia seperti Jakarta dan Jawa Barat, tingkat keberhasilan TMC di Indonesia belum sempurna. Hal ini diduga karena Indonesia berada di daerah tropis yang mempunyai kategori awan yang sulit dimodifikasi. Selain itu, tingkat keberhasilan TMC di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti angin dan awan. (kholi/red)

TERKAIT
- Advertisment -