BerandaBeritaAktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras, Ini Dampak Berbahayanya bagi Tubuh

Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras, Ini Dampak Berbahayanya bagi Tubuh

Saluran WhatsApp

Bantentv.com – Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, menjadi korban dugaan penyiraman air keras pada Kamis, 12 Maret 2026 sekitar pukul 23.30 WIB di Jakarta Pusat.

Peristiwa tersebut menuai kecaman dari berbagai pihak karena dinilai sebagai tindakan kekerasan yang termasuk tindak pidana penganiayaan berat. Selain itu, air keras juga diketahui sangat berbahaya bagi tubuh manusia.

Dikutip dari KlikDokter, air keras sebenarnya cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dokter dari KlikDokter, dr. Theresia Rina Yunita, menjelaskan bahwa beberapa jenis zat kimia seperti asam sulfat kerap digunakan untuk menghidupkan aki kendaraan, sementara air raksa digunakan dalam termometer.

“Dalam banyak hal, penggunaan air keras dalam kehidupan sehari-hari memang membantu. Namun penggunaan yang salah dan membuat seseorang terpapar dalam jumlah banyak dan waktu lama dapat menimbulkan kerusakan serius,” ujarnya.

Baca Juga: Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras, Ini Kronologi Kejadiannya

Berikut sejumlah bahaya yang dapat ditimbulkan jika seseorang terkena air keras:

Kerusakan jaringan kulit

Air keras dapat menyebabkan luka bakar serius hingga membuat jaringan kulit rusak. Padahal, kulit merupakan pelindung utama tubuh dari berbagai ancaman luar.

“Luka bakar akibat air keras dapat menyebabkan kulit meleleh. Jika pertahanan tubuh ini rusak, maka risiko infeksi akan meningkat,” jelas dr. Theresia.

Ia menambahkan, infeksi pada luka bakar parah bahkan dapat berujung pada kematian.

Kerusakan mata

Paparan air keras pada mata dapat merusak kornea dan berpotensi menyebabkan kebutaan permanen.

Baca Juga: Aktivis KontraS Disiram Air Keras di Jakarta, Kapolri Beri Atensi Khusus

Kasus serupa pernah terjadi pada penyidik KPK Novel Baswedan yang mengalami kerusakan mata akibat serangan air keras.

Kerusakan organ lainnya

Selain kulit dan mata, organ lain juga dapat terdampak. Paparan air keras dapat merusak organ pendengaran hingga menutup lubang telinga akibat jaringan kulit di sekitarnya yang rusak.

Selain itu, air keras juga dapat menutup lubang hidung sehingga korban kesulitan bernapas. Uap atau aroma zat kimia tersebut juga bisa menyebabkan penyempitan saluran pernapasan yang berbahaya.

Pertolongan pertama jika terkena air keras

Apabila seseorang terkena air keras, penanganan cepat sangat diperlukan untuk meminimalkan kerusakan pada tubuh.

Bilas dengan air sebanyak mungkin

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah membilas bagian tubuh yang terkena air keras menggunakan air bersih dalam jumlah banyak.

“Jika penanganan pertama terlambat dilakukan, risiko kerusakan bisa semakin parah, terutama jika mengenai mata yang dapat menyebabkan kebutaan,” kata dr. Theresia.

Baca Juga: Kantor KontraS Dipantau Orang Tak Dikenal, Usai Geruduk Rapat Panja RUU TNI

Pembilasan sebaiknya dilakukan menggunakan air bersih bersuhu normal selama minimal 30 menit hingga rasa terbakar berkurang.

Tutup wajah sebisa mungkin

Dalam banyak kasus, wajah sering menjadi target utama serangan air keras. Oleh karena itu, menutup wajah dengan tangan atau benda lain dapat membantu mengurangi paparan zat kimia tersebut.

Hindari penggunaan obat atau krim

Korban juga tidak dianjurkan mengoleskan krim, minyak, atau obat apa pun pada area yang terkena air keras karena dapat mempersulit penanganan medis.

Lepaskan pakaian atau benda yang terkena air keras

Segala benda yang terkena air keras, seperti pakaian atau aksesori, sebaiknya segera dilepaskan agar tidak memperparah paparan pada kulit.

Segera ke rumah sakit

Setelah melakukan pertolongan pertama, korban disarankan segera mendapatkan penanganan medis di rumah sakit untuk mencegah kerusakan yang lebih parah.

Air keras merupakan zat kimia yang sangat berbahaya jika mengenai tubuh manusia. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk mengetahui bahaya serta langkah pertolongan pertama jika terjadi paparan zat tersebut.

Editor : Erina Faiha

TERKAIT
- Advertisment -